Tim Pertalight UPER Raih Juara Tiga Nasional dengan Solusi Inovatif untuk Hak Pejalan Kaki di Kota Besar

Jakarta – Mobilitas di kawasan metropolitan seperti Jakarta kini menghadapi tantangan yang signifikan, terutama terkait dengan hak pejalan kaki. Dengan populasi yang diperkirakan akan mencapai 42 juta jiwa pada tahun 2026 menurut data PBB, masalah inklusivitas dalam ruang publik menjadi semakin mendesak. Ironisnya, infrastruktur untuk pejalan kaki sering kali terabaikan di tengah maraknya pembangunan fisik. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa 90 persen trotoar di lokasi-lokasi strategis justru digunakan untuk parkir liar dan aktivitas pedagang kaki lima (PKL), menurut laporan Koalisi Pejalan Kaki pada tahun 2026. Hal ini sangat berdampak pada penyandang disabilitas, di mana sekitar 70 persen fasilitas guiding block tidak berfungsi akibat kerusakan atau penutupan permanen (Pertuni, 2026).
Krisis Infrastruktur Pejalan Kaki di Jakarta
Kondisi infrastruktur pejalan kaki yang tidak memadai menjadi alasan utama mengapa Jakarta hanya menduduki peringkat ke-46 dari 60 kota dalam Indeks Kesiapan Mobilitas Perkotaan Global. Peringkat ini mengingatkan kita bahwa kualitas mobilitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan populasi, tetapi juga oleh integritas jalur untuk pejalan kaki yang memastikan keamanan dan kenyamanan bagi semua warga, tanpa terkecuali.
Inovasi dari Mahasiswa Universitas Pertamina
Menanggapi tantangan ini, mahasiswa dari Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina yang tergabung dalam tim Pertalight Public Relations, yaitu Miftakhul Laili Afifah, Imtiaz Ahmad, dan Zhaira Zata Aqma, telah merancang sebuah kampanye komunikasi publik yang diberi nama “Jejak Kota: Langkah Jakarta Menuju Inklusivitas”. Inisiatif ini berhasil meraih Juara 3 dalam Kompetisi Public Relations yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, di mana mereka berhasil mengalahkan 20 tim dari berbagai universitas di seluruh Indonesia.
Pentingnya Penyadaran dan Penegakan Aturan
“Masalah pejalan kaki di Jakarta sangat terkait dengan perilaku masyarakat serta lemahnya penegakan hukum. Tanpa adanya empati dari masyarakat dan pengawasan yang ketat dari pihak berwenang, infrastruktur trotoar akan terus kehilangan fungsinya dalam mendukung aktivitas sehari-hari warganya,” ungkap Imtiaz Ahmad, salah satu perwakilan tim.
Dampak Ekonomi dari Penyalahgunaan Trotoar
Akibat kondisi ini, dampak negatif yang ditimbulkan tidak bisa dianggap sepele. Penggunaan trotoar yang tidak sesuai berkontribusi terhadap 18.302 kasus kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki, berdasarkan data yang dihimpun oleh Goodstats pada tahun 2025. Tim Pertalight melakukan analisis terhadap kerugian ekonomi dari kasus-kasus tersebut menggunakan pendekatan Severity Index yang berbasis aktuaria. Metode ini umum digunakan dalam kajian risiko keselamatan jalan dan menghasilkan estimasi kerugian total sekitar Rp380,49 miliar, atau rata-rata Rp20,79 juta per kasus. Angka ini merupakan estimasi kalkulatif berdasarkan data kecelakaan yang tersedia, bukan hasil audit kerugian langsung, sehingga perlu dipahami sebagai gambaran umum dampak yang terjadi.
Strategi Kampanye “Jejak Kota”
Dibawah bimbingan Muhammad Nur Ahadi, M.I.Kom, dan Ita Musfirowati Hanika, M.I.Kom, kampanye “Jejak Kota” dirancang sebagai panduan komunikasi inklusif yang dapat diterapkan oleh pemerintah kota lain di seluruh Indonesia. Tim ini tidak hanya fokus pada aktivasi media sosial, tetapi juga merancang aksi edukasi langsung di lapangan, seperti pemasangan signage interaktif dengan fitur QR Code yang terhubung ke aplikasi JAKI. Aplikasi ini bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam melaporkan kerusakan atau penyalahgunaan trotoar. Melalui langkah-langkah ini, Imtiaz berharap kampanye tersebut dapat memicu aksi nyata dan menumbuhkan budaya empati di kalangan warga untuk menjaga ruang publik yang aman dan inklusif bagi semua pejalan kaki, khususnya bagi mereka yang memiliki disabilitas.
Komitmen Universitas Pertamina terhadap SDGs
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa inisiatif kampanye ini merupakan kontribusi nyata dari para akademisi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada poin ke-11, yang berfokus pada penciptaan Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.
Pendidikan dan Pemberdayaan Mahasiswa
“Selain menampilkan kreativitas, melalui mata kuliah Produksi Public Relations dan Manajemen Pemasaran Sosial, mahasiswa juga didorong untuk menghasilkan solusi praktis yang menyentuh masalah-masalah mendasar di masyarakat. Universitas Pertamina berkomitmen untuk terus mencetak praktisi komunikasi yang tidak hanya terampil secara teknis tetapi juga peka terhadap aspek kemanusiaan dalam setiap pesan yang mereka sampaikan,” tutup Prof. Djoko.
Dengan upaya kolaboratif ini, diharapkan hak pejalan kaki di Jakarta dapat terwujud, menciptakan ruang publik yang lebih aman, nyaman, dan inklusif bagi semua lapisan masyarakat.



